Rabu, 23 Oktober 2013

KKL TTR Kondang Merak


LAPORAN PRAKTIKUM KKL
TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH
RHODOPHYTA
DI KONDANG MERAK

Dosen Pembimbing :
Drs. Sulisetijono M.Si
Ainun Nikmati Laily M.Si

Oleh :
Muh. Masyruful Azim            (08620025)

             









JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2013



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Berdasarkan firman Allah dalam surat As Syu’ara’ ayat 7 :
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الْأَرْضِ كَمْ أَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ         
Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapa banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?”
Indonesia yang memiliki julukan jantung khatulistiwa tak diragukan lagi memiliki keanekaragaman tumbuhan yang sangat melimpah. Berbagai macam tumbuhan dapat hidup dengan subur. Selain itu, Indonesia juga dikenal dengan nama Negara maritim. Indonesia sebagai negara maritim mempunyai prospek yang cukup cerah untuk mengembangkan dan memberdayakan sumber hayati kelautan. Salah satu komponen biota yang merupakan sumber daya hayati kelautan adalah makroalga. Indonesia memiliki keanekaragaman jenis baik yang bersifat “will crop” maupun beberapa telah dibudidayakan. Makroalga yang umum dijumpai di laut terkenal pula dengan nama rumput laut. Makroalga merupakan salah satu produsen pantai dan jenis-jenis yang ditemukan di pantai berbatu karang umumnya adalah dari kelas Chlorophyta, Rhodophyta, dan Phaeophyta (Saptasari, 2010).
Kuliah kerja lapangan yang bertempat di Pantai kondang Merak ini dilakukan agar kami, para mahasiswa, lebih memahami tentang mata kuliah alga dengan cara mengobservasi secara langsung di Pantai Kondang Merak. Hal ini juga sebagai pengayaan materi dari kuliah alga yang berada dikelas selama ini.
Dengan ini mahasiswa juga dapat melihat kenyataan secara langsung bagaimana keadaan alga di habitatnya, dengan begitu akan menumbuhkan kecintaan mereka kepada alga dan muncul keinginan untuk turut melestarikannya, apalagi sebagai kaum akademis mereka memiliki ilmu yang cukup dan mumpuni serta memiliki daya untuk mewujudkannya.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan pada pengamatan makroalga ini adalah :
1.       Apa saja jenis-jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak?
2.       Bagaimana klasifikasi dari jenis-jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak?
3.      Apa ciri-ciri dari jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak?
1.3  Tujuan
Adapun tujuan dari pengamatan ini adalah :
1.       Mengetahui jenis-jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak
2.       Mengetahui klasifikasi dari jenis-jenis alga yang terdapat di pantai Kondang  Merak
3.       Mengetahui ciri-ciri dari jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak.
1.4  Manfaat
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
 

  1.      Pengetahuan tentang dunia laut
  2.          Pengetahuan jenis-jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak
  3.         Pengetahuan klasifikasi dari jenis-jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak
  4.     Pengetahuan ciri-ciri dari jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak.



1.       
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Rhodophyta hanya mempunyai satu kelas yaitu Rhodophyceae dengan anak kelas Bangiophycidae dan Florideophycidae. Kedua anak kelas dibedakan berdasarkan pada kelompok. Florideophycidae terdapat noktah sedangkan Bangiophycidae tidak ada. Tetapi menurut Sabbitthah (1999) sekarang telah ditemukan hubungan noktah dan pertumbuhan apical pada beberapa anggota dari Bangiophycidae di salah satu stadium dalam daur hidupnya, yaitu stadium Conchoselis (suatu stadium filamentik dari Bangiophycidae yang berada di dalam cangkang kerang). Sebaliknya pada beberapa Florideophycidae, misalnya Delleseriaceae (bangsa Ceramiales) dan Corallinaceae (bangsa Cjryptonemiales) tidak diketemukan daur hidup yang trifasik, maka dengan alasan tersebut di atas kedua anak kelas tadi telah dihapus hingga pembagiannya langsung ke bangsanya (Loveless, 1989).
Pada umumnya hidup di lingkungan air laut, tetapi beberapa yang hidup di air tawar, contoh: Batrachospermum. Distribusi luas di seluruh dunia, sebagian besar tumbuh pada batu-batuan karang, beberapa jenis juga epifit pada tumbuhan air kelompok tumbuhan tinggi (Angiosperm) atau pada Rohodophyta yang lain, Phaeophyceae, Chlorophyceae (Loveless,1989).
Talus dari alga ini bervariasi mengenai bentuk tekstur dan warnanya. Bentuk talus ada yang silindris, pipih dan lembaran. Rumpun yang terbentuk oleh berbagai sistem percabangan ada yang tampak sederhana berupa filament dan ada pula yang berupa percabangan yang komplek. Warna talus bervariasi merah, ungu, coklat, dan hijau (Loveless, 1989).
Pada umumnya dinding sel terdiri dari dua komponen fibriler awan membentuk rangka dinding dan komponen non fibriler berbentuk matrik. Tipe umum dari komponen fibriler mengandung selulosa, sedangkan non fibriler tersusun dari galaktan atau polimer dan galaktosa seperti agar, karaginin porpiran (Pandey,1995).
Cadangan makanan pada Rhodophyceae adalah karbohidrat yang tersimpan dalam bentuk granula yang terletak dalam sitiplasma. Granula akan berwarna merah apabila diuji dengan potassium iodide dan disebut tepung florodean. Cadangan makanan lain adalah florodosida (Pandey, 1995).
Pigmen terdiri dari klorofil a dan d, karotenoid, dan fikobilia (fikoeritrin dan fikosianin). Keistimewaan dan sifat lain Rhodopyceae adalah tidak ada sel yang dilengkapi alat gerak (Pandey, 1995).
Rhodopyceae dapat melakukan reproduksisecara vegetative, yaitu dengan fragmentasi talusnya. Akan tetapi cara demikian ini hanya terdapat pada beberapa jenis tertentu saja. Rhodopyceae membentuk satu atau beberapa macam spora yang tidak berflagel yaitu karpospora, spora netral, monospora, bispora, tetraspora, atau polispora (Taylor, 1960).
Karpospora adalah spora yang terbentuk secara seksual, spora ini terbentuk secara langsung atau tidak langsung dari zigot. Spora-spora lainnya adalah spora aseksual. Spora netral adalah spora yang terbentuk langsung dari sel vegetative yang mengalami metamorfosa. Monospora adalah spora yang terbentuk dalam sporangium yang hanya menghasilkan satu spora saja (Taylor, 1960).
Menurut Romimohtarto (2001) reproduksi gametik pada Rhodopyceae berbeda dengan golongan alga lainnya dan untuk struktur yang berkaitan dengan reproduksi ini, mempunyai erminology tersendiri. Alat kelamin jantan disebut spermatangium, sel kelamin jantan tidak berflagella disebut spermatium, dalam satu spermatangium hanya dibentuk satu spermatium saja. Alat kelamin betina disebut karpogonium yang terdiri dari satu sel yang di bagian ujung distalnya terdapat tonjolan yang disebut trikhogin, inti terdapat di bagian dasar dari karpogonium. Spermatium yang dibebaskan dari spermatangium terbawa gerakan air sampai trikhogin. Pada tempat menempelnya spermatium terbentuklah lubang kecil sehingga inti dari spermatium dapat masuk ke dalam trikhogin dan berimigrasi ke bagian dasar dari karpogium di mana inti karpogium berada. Kedua inti bersatu dan terbentuklah zygot. Rhodophyceae yang tinggi tingkatannya mempunyai daur hidup dengan pergantian keturunan yang bifasik dan trifasik.


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1  Waktu dan Tempat
Pengamatan Algae ini dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2013 pukul 16:00 – 17:00 WIB ketika air surut dan tanggal 13 Oktober 2013 pukul 05:30 – 07:00 WIB ketika air surut juga. Pengamatan ini dilakukan di Pantai Kondang Merak,  Malang, Jawa Timur Indonesia.

3.2  Alat dan Bahan
3.3.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam pengamatan kali ini adalah :
a.       Kantong plastik                                          3 buah
b.      Kamera                                                        1 buah
c.       Ice box                                                       1 buah
d.      Alat tulis                                                     secukupnya
e.       Toples                                                         3 buah
3.3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam pengamatan kali ini adalah :
a.       Gracillaria salicornia                                 1 spesies
b.       Achantapora spiciefera                              1 spesies
c.       Laurencia sp                                               1 spesies
d.      Larutan formalin 20%                                 secukupnya
e.       Es                                                               secukupnya
f.       Kertas label                                                 secukupnya

3.3  Cara Kerja
Langkah-langkah yang dilakukan saat pengamatan adalah :
a.              Dicari tempat pengamatan kurang lebih antara 10 x 10 m
b.             Ditunggu air keadaan pasang pada sore hari dan
c.              Diamati alga-alga yang ada di area 10 x 10 m tersebut
d.             Diambil alga-alga yang ada
e.              Dimasukkan ke dalam kantong plastic terlebih dahulu setelah itu dimasukkan ke Ice box yang berisi es
f.              Dibawa ke fakultas ke dalam Lab untuk pengidentifikasian
g.             Diidentifikasi dengan memilah spesies-spesies yang ada
h.             Diberi nama dengan kertas label pada spesies-spesies yang sudah teridentifikasi
i.               Dimasukkan alga ke dalam larutan herbarium dalam toples




BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Gracillaria salicornia










Keterangan: 1.Talus
   2. Holdfast
Klasifikasi            :
Kingdom         Plantae
Divisio         Rhodophyta
       Classis          Rhodophyceae
             Ordo             Gigartinales
       Famili           Gigartinaceae
Genus           Gracilaria
     Species         Gracilaria salicornia
Deskripsi  :
Dari hasil pengamatan, Gracillaria salicornia memiliki talus yang seperti berbuku-buku dengan percabangan yang tidak teratur. Thalus silindris, berwarna coklat kemerahan, licin, kenyal, tebal, dan berair. Holdfast berbentuk seperti serabut berwarna kecoklatan.
Ganggang Merah (Gracilaria sp.) termasuk Classis Rhodophyceae karena berwarna merah sampai ungu, kadang-kadang juga lembayung atau pirang kemerah-merahan. Kromatofora berbentuk cakram atau suatu lembaran, mengandung klorofil –a dan karetonoid, tetapi warn aitu tertutup fikoetrin.  Gracilaria sp. termasuk dalam Sub Classis Floridae, karena talus bercabang-cabang dengan beraturan dan mempunyai beranekaragam bentuk seperti benang, lembaran-lembaran. Percabangan menyirip atau menggarpu. Tubuhnya silindris dengan garis tengah 2-3 mm bercabang-cabang seperti talus pada Ulva sp. tetapi lebih tebal dan mempunyai sistokarp.
Habitat dari Gracilaria sp. yaitu berada di laut. Gracilaria salicornia ditemukan dalam tidepools dan terumbu karang, intertidal untuk subtidal 4 meter, melekat pada substrat batu kapur dan basal. Tanaman intertidal sering tanpa konstriksi, tanaman subtidal dengan konstriksi.
            Gracilaria salicornia bervariasi dalam warna dari kuning cerah di ujung ke oranye , hijau atau coklat di pangkalan. Talus adalah silinder ( 0.5cm diameter ) dan dikotomus bercabang dengan konstriksi di dasar setiap dikotomi . Di Hawai'i umumnya tumbuh di tikar tiga dimensi yang erat melekat ke substrat keras dan bisa sampai 25 - 40cm dengan ketebalan , dalam lingkungan tenang mungkin tumbuh dalam bentuk tegak dan lebih terbuka bercabang ( Smith Pers Comm . . 2003) .









4.2 Achantapora spiciefera










Keterangan           : 1. Talus
                               2. Holdfast
Klasifikasi            :
Klasifikasi  menurut Manoa (2001), adalah:
Kingdom         Plantae
     Divisi              Rhodophyta
            Kelas           Rhodophyceae
    Ordo            Ceramiales
        Famili           Rhodomelaceae
Genus           Acanthophora
     Spesies       Acanthophora spicifera

Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan ciri-ciri sebagai berikut: Alga ini berwarna merah kekuningan, thallus bercabang banyak selang seling berbentuk silendrik agak kaku dengan bintil-bintil yang mencuat kesamping dengan permukaan yang kasar dan panjang antara 5 – 6 cm . Tumbuh melekat pada batu karang dan pecahan karang.
Alga ini warnanya bervariasi dengan paparan sinar matahari, dari kuning di perairan dangkal terkena cahaya terang, menjadi hijau, merah atau coklat tua di daerah dengan radiasi yang lebih rendah. Thallus silinder, cabang berduri, cabang utama pendek. Acanthophora secara luas didistribusikan ke seluruh daerah tropis dan subtropis di zona pasang surut dan subtidal (Manoa, 2001).
Achantopora spcifera memiliki  ciri-ciri : talus silindris, percabangan bebas, tegak, terdapat duri-duri pendek sekitar thallus yang merupakan karakteristik jenis ini. Substansi cartilaginous, warna coklat tua atau kekuningkuningan. Rumpun lebat dengan percabangan ke segala arah Tumbuh pada substrat batu atau substrat keras lainnya, dapat bersifat epifit. Sebaran tumbuhnya meluas di perairan Indonesia.
Familia Rhodomelaceae mempunyai karakteristik tersusun oleh polisiphonus yang dihasilkan oleh 2 sisi: pertama daun mempunyai struktur yang similar pada porosnya, kedua daun monosipon dan mempuyai banyak warna yang tersusun oleh tripoblas (Gupta, 1981).
Pada familia ini ditemukan 1 jenis yaitu : Achantopora spicifera dengan ciri-ciri : talus silindris, percabangan bebas, tegak, terdapat duri-duri pendek sekitar thallus yang merupakan karakteristik jenis ini. Substansi cartilaginous, warna coklat tua atau kekuningkuningan.Rumpun lebat dengan percabangan ke segala arah Tumbuh pada substrat batu atausubstrat keras lainnya, dapat bersifat epifit. Sebaran tumbuhnya meluas di perairan Indonesia(Dahuri,2003).
Acanthophora berkhasiat untuk antimikroba dan anti kesuburan. Menurut Atmadja (1990) pada tahun 1986 Wahidul pernah melakukan penelitian mengekstrak Acanthophora spicifera, dari hasil ekstrak tersebut dapat diisolasi senyawa kimia yaitu sterol, kolesterol, asam lemak, stearik, palmitat, behamik (C22), asam arakhidik (C2O) dan methyl palmitat.  Rumput laut ini juga mempunyai daya aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans dan memiliki aktivitas anti kesuburan terhadap binatang.
Pada umumnya hidup di lingkungan air laut, tetapi beberapa yang hidup di air tawar, contoh: Batrachospermum. Distribusi luas di seluruh dunia, sebagian besar tumbuh pada batu-batuan karang, beberapa jenis juga epifit pada tumbuhan air kelompok tumbuhan tinggi (Angiosperm) atau pada Rhodophyta yang lain, Phaeophyceae, Chlorophyceae (Loveless,1989).

4.3 Laurencia snyderae




Keterangan :
1.      Thalus
2.      Holdfas
 Klasifikasi
Kingdom         Plantae
            Divisi          Rhodophyta
                  Kelas          Rhodophyceae
                        Ordo            Ceramiales
                                 Family      Rhodomelaceae
                                       Genus        Laurencia
                                                Spesies    Laurencia sp.
Deskripsi

Berdasarkan dari hasil penelitian didapatkan ciri-ciri sebagai berikut: Alga ini berwarna merah kecoklatan, thallus nya kecil-kecil bercabang banyak selang seling tidak teratur berbentuk silendris holdfasnya serabut Tumbuh melekat pada batu karang dan pecahan karang. Untuk literature mengenai alga jenis ini belum kami temukan.



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan tumbuhan thallophyta di kondang merak, didapatkan alga dengan banyak spesies. Tiga contoh yang kami ambil adalah sebagai berikut :
1.      Gracilaria salicornia : divisi Rhodophyta ordo Gigartinales. Memiliki talus yang seperti berbuku-buku dengan percabangan yang tidak teratur. Thalus silindris, berwarna coklat kemerahan, licin, kenyal, tebal, dan berair. Holdfast berbentuk seperti serabut berwarna kecoklatan.
2.      Achantophora spiciefera : divisi Rhodophyta dari ordo Ceramiales. Berwarna merah kekuningan, thallus bercabang banyak selang seling berbentuk silendrik agak kaku dengan bintil-bintil yang mencuat kesamping dengan permukaan yang kasar dan panjang antara 5 – 6 cm . Tumbuh melekat pada batu karang dan pecahan karang.
3.      Laurencia snydrae didapatkan ciri-ciri sebagai berikut: Divisi Rhodophyta Ordo cerameales Alga ini berwarna merah kecoklatan, thallus nya kecil-kecil bercabang banyak selang seling tidak teratur berbentuk silendris hulfasnya serabut Tumbuh melekat pada batu karang dan pecahan karang.
5.2 Saran
KKL ( Kuliah kerja lapangan) telah berjalan dengan lancar sebagaimana yang telah direncanakan. Untuk kedepannya, memang tetap perlu adanya peningkatan dalam agenda penelitiannya. Pemahaman peneliti sebelumnya berkaitan dengan target penelitian sangat membantu.






DAFTAR PUSTAKA

Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta.
Bold, 1978. Introduction To The Algae, Structure and Reproduction. New Delhi : Prentice Hall Of India.
Dawes, C. J. 1990. Marine Botany A Wiley Interscience.  Publication John Wiley & Sons : New York.
Dodge, J. D. 1973. The Fine Structure of Algae Cells. Academic Press. London.
Loveless, A.R. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 2. PT Gramedia : Jakarta.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan : Jakarta.
Nybakken, J. W. 1992. Biologi  Laut  Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta : PT Gramedia.
Pandey, S.N. 1995. A Textbook of Algae. Vikas Publishing : Jakarta.
Taylor, W. R. 1960. Marine Algae of the Eastern Tropical and Subtropical Coast of the Americas. New York : Ann Akbor the University of Michigan Press.