LAPORAN PRAKTIKUM KKL
TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH
RHODOPHYTA
DI KONDANG MERAK
Dosen
Pembimbing :
Drs.
Sulisetijono M.Si
Ainun
Nikmati Laily M.Si
Oleh :
Muh. Masyruful Azim (08620025)
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan firman Allah dalam surat As Syu’ara’ ayat 7 :
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الْأَرْضِ كَمْ أَنْبَتْنَا
فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapa banyaknya kami
tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?”
Indonesia yang memiliki julukan
jantung khatulistiwa tak diragukan lagi memiliki keanekaragaman tumbuhan yang
sangat melimpah. Berbagai macam tumbuhan dapat hidup dengan subur. Selain itu, Indonesia juga dikenal dengan
nama Negara maritim. Indonesia sebagai negara maritim mempunyai prospek yang
cukup cerah untuk mengembangkan dan memberdayakan sumber hayati kelautan. Salah
satu komponen biota yang merupakan sumber daya hayati kelautan adalah
makroalga. Indonesia memiliki keanekaragaman jenis baik yang bersifat “will
crop” maupun beberapa telah dibudidayakan. Makroalga yang umum dijumpai di laut
terkenal pula dengan nama rumput laut. Makroalga merupakan salah satu produsen
pantai dan jenis-jenis yang ditemukan di pantai berbatu karang umumnya adalah
dari kelas Chlorophyta, Rhodophyta, dan Phaeophyta (Saptasari, 2010).
Kuliah kerja lapangan yang bertempat di Pantai kondang
Merak ini dilakukan agar kami, para mahasiswa, lebih memahami tentang mata
kuliah alga dengan cara mengobservasi secara langsung di Pantai Kondang Merak.
Hal ini juga sebagai pengayaan materi dari kuliah alga yang berada dikelas
selama ini.
Dengan ini mahasiswa juga dapat
melihat kenyataan secara langsung bagaimana keadaan alga di habitatnya, dengan
begitu akan menumbuhkan kecintaan mereka kepada alga dan muncul keinginan untuk
turut melestarikannya, apalagi sebagai kaum akademis mereka memiliki ilmu yang
cukup dan mumpuni serta memiliki daya untuk mewujudkannya.
1.2 Rumusan
Masalah
Adapun rumusan pada pengamatan makroalga ini adalah :
1. Apa saja
jenis-jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak?
2. Bagaimana
klasifikasi dari jenis-jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak?
3. Apa ciri-ciri dari jenis alga yang terdapat di pantai
Kondang Merak?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pengamatan ini adalah :
1. Mengetahui jenis-jenis alga yang terdapat di
pantai Kondang Merak
2. Mengetahui klasifikasi dari jenis-jenis alga
yang terdapat di pantai Kondang Merak
3. Mengetahui ciri-ciri dari jenis alga yang
terdapat di pantai Kondang
Merak.
1.4 Manfaat
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat sebagai berikut:
- Pengetahuan tentang dunia laut
- Pengetahuan jenis-jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak
- Pengetahuan klasifikasi dari jenis-jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak
- Pengetahuan ciri-ciri dari jenis alga yang terdapat di pantai Kondang Merak.
1.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Rhodophyta hanya mempunyai satu kelas yaitu
Rhodophyceae dengan anak kelas Bangiophycidae dan Florideophycidae. Kedua anak
kelas dibedakan berdasarkan pada kelompok. Florideophycidae terdapat noktah
sedangkan Bangiophycidae tidak ada. Tetapi menurut Sabbitthah (1999) sekarang
telah ditemukan hubungan noktah dan pertumbuhan apical pada beberapa anggota
dari Bangiophycidae di salah satu stadium dalam daur hidupnya, yaitu stadium
Conchoselis (suatu stadium filamentik dari Bangiophycidae yang berada di dalam
cangkang kerang). Sebaliknya pada beberapa Florideophycidae, misalnya
Delleseriaceae (bangsa Ceramiales) dan Corallinaceae (bangsa Cjryptonemiales)
tidak diketemukan daur hidup yang trifasik, maka dengan alasan tersebut di atas
kedua anak kelas tadi telah dihapus hingga pembagiannya langsung ke bangsanya
(Loveless, 1989).
Pada umumnya hidup di lingkungan air laut,
tetapi beberapa yang hidup di air tawar, contoh: Batrachospermum. Distribusi
luas di seluruh dunia, sebagian besar tumbuh pada batu-batuan karang, beberapa
jenis juga epifit pada tumbuhan air kelompok tumbuhan tinggi (Angiosperm) atau
pada Rohodophyta yang lain, Phaeophyceae, Chlorophyceae (Loveless,1989).
Talus dari alga ini bervariasi mengenai
bentuk tekstur dan warnanya. Bentuk talus ada yang silindris, pipih dan
lembaran. Rumpun yang terbentuk oleh berbagai sistem percabangan ada yang
tampak sederhana berupa filament dan ada pula yang berupa percabangan yang
komplek. Warna talus bervariasi merah, ungu, coklat, dan hijau (Loveless,
1989).
Pada umumnya dinding sel terdiri dari dua
komponen fibriler awan membentuk rangka dinding dan komponen non fibriler
berbentuk matrik. Tipe umum dari komponen fibriler mengandung selulosa,
sedangkan non fibriler tersusun dari galaktan atau polimer dan galaktosa
seperti agar, karaginin porpiran (Pandey,1995).
Cadangan makanan pada Rhodophyceae adalah
karbohidrat yang tersimpan dalam bentuk granula yang terletak dalam sitiplasma.
Granula akan berwarna merah apabila diuji dengan potassium iodide dan disebut
tepung florodean. Cadangan makanan lain adalah florodosida (Pandey, 1995).
Pigmen terdiri dari klorofil a dan d,
karotenoid, dan fikobilia (fikoeritrin dan fikosianin). Keistimewaan dan sifat
lain Rhodopyceae adalah tidak ada sel yang dilengkapi alat gerak (Pandey,
1995).
Rhodopyceae dapat melakukan reproduksisecara
vegetative, yaitu dengan fragmentasi talusnya. Akan tetapi cara demikian ini
hanya terdapat pada beberapa jenis tertentu saja. Rhodopyceae membentuk satu
atau beberapa macam spora yang tidak berflagel yaitu karpospora, spora netral,
monospora, bispora, tetraspora, atau polispora (Taylor, 1960).
Karpospora adalah spora yang terbentuk secara
seksual, spora ini terbentuk secara langsung atau tidak langsung dari zigot.
Spora-spora lainnya adalah spora aseksual. Spora netral adalah spora yang
terbentuk langsung dari sel vegetative yang mengalami metamorfosa. Monospora
adalah spora yang terbentuk dalam sporangium yang hanya menghasilkan satu spora
saja (Taylor, 1960).
Menurut Romimohtarto (2001) reproduksi
gametik pada Rhodopyceae berbeda dengan golongan alga lainnya dan untuk
struktur yang berkaitan dengan reproduksi ini, mempunyai erminology tersendiri.
Alat kelamin jantan disebut spermatangium, sel kelamin jantan tidak berflagella
disebut spermatium, dalam satu spermatangium hanya dibentuk satu spermatium
saja. Alat kelamin betina disebut karpogonium yang terdiri dari satu sel yang
di bagian ujung distalnya terdapat tonjolan yang disebut trikhogin, inti
terdapat di bagian dasar dari karpogonium. Spermatium yang dibebaskan dari
spermatangium terbawa gerakan air sampai trikhogin. Pada tempat menempelnya
spermatium terbentuklah lubang kecil sehingga inti dari spermatium dapat masuk
ke dalam trikhogin dan berimigrasi ke bagian dasar dari karpogium di mana inti
karpogium berada. Kedua inti bersatu dan terbentuklah zygot. Rhodophyceae yang
tinggi tingkatannya mempunyai daur hidup dengan pergantian keturunan yang
bifasik dan trifasik.
BAB III
3.1 Waktu dan Tempat
Pengamatan Algae ini dilakukan pada tanggal 12 Oktober
2013 pukul 16:00 – 17:00 WIB ketika air surut dan tanggal 13 Oktober 2013 pukul
05:30 – 07:00 WIB ketika air surut juga. Pengamatan ini dilakukan di Pantai
Kondang Merak, Malang, Jawa Timur Indonesia.
3.2 Alat dan Bahan
3.3.1 Alat
Alat-alat
yang digunakan dalam pengamatan kali ini adalah :
a. Kantong
plastik 3
buah
b. Kamera 1
buah
c. Ice
box 1
buah
d. Alat
tulis secukupnya
e. Toples 3
buah
3.3.2 Bahan
Bahan-bahan
yang digunakan dalam pengamatan kali ini adalah :
a. Gracillaria
salicornia 1 spesies
b.
Achantapora spiciefera 1
spesies
c. Laurencia sp 1 spesies
d. Larutan
formalin 20% secukupnya
e. Es secukupnya
f. Kertas
label secukupnya
3.3 Cara Kerja
Langkah-langkah
yang dilakukan saat pengamatan adalah :
a.
Dicari
tempat pengamatan kurang lebih antara 10 x 10 m
b.
Ditunggu
air keadaan pasang pada sore hari dan
c.
Diamati
alga-alga yang ada di area 10 x 10 m tersebut
d.
Diambil
alga-alga yang ada
e.
Dimasukkan
ke dalam kantong plastic terlebih dahulu setelah itu dimasukkan ke Ice box yang
berisi es
f.
Dibawa
ke fakultas ke dalam Lab untuk pengidentifikasian
g.
Diidentifikasi
dengan memilah spesies-spesies yang ada
h.
Diberi
nama dengan kertas label pada spesies-spesies yang sudah teridentifikasi
i.
Dimasukkan
alga ke dalam larutan herbarium dalam toples
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1
Gracillaria salicornia
2. Holdfast
Klasifikasi :
Kingdom Plantae
Divisio Rhodophyta
Classis Rhodophyceae
Ordo Gigartinales
Famili Gigartinaceae
Genus Gracilaria
Species Gracilaria
salicornia
Deskripsi :
Dari hasil pengamatan,
Gracillaria salicornia memiliki talus yang seperti berbuku-buku dengan
percabangan yang tidak teratur. Thalus silindris, berwarna coklat kemerahan,
licin, kenyal, tebal, dan berair. Holdfast berbentuk seperti serabut berwarna
kecoklatan.
Ganggang Merah (Gracilaria
sp.) termasuk Classis Rhodophyceae karena berwarna merah sampai ungu,
kadang-kadang juga lembayung atau pirang kemerah-merahan. Kromatofora berbentuk
cakram atau suatu lembaran, mengandung klorofil –a dan karetonoid, tetapi warn
aitu tertutup fikoetrin. Gracilaria sp. termasuk dalam Sub Classis
Floridae, karena talus bercabang-cabang dengan beraturan dan mempunyai
beranekaragam bentuk seperti benang, lembaran-lembaran. Percabangan menyirip
atau menggarpu. Tubuhnya silindris dengan garis tengah 2-3 mm bercabang-cabang
seperti talus pada Ulva sp. tetapi lebih tebal dan mempunyai sistokarp.
Habitat dari Gracilaria sp. yaitu berada di laut. Gracilaria salicornia
ditemukan dalam tidepools dan terumbu karang, intertidal untuk subtidal 4
meter, melekat pada substrat batu kapur dan basal. Tanaman intertidal sering
tanpa konstriksi, tanaman subtidal dengan konstriksi.
Gracilaria salicornia
bervariasi dalam warna dari kuning cerah di ujung ke oranye , hijau atau coklat
di pangkalan. Talus adalah silinder ( 0.5cm diameter ) dan dikotomus bercabang
dengan konstriksi di dasar setiap dikotomi . Di Hawai'i umumnya tumbuh di tikar
tiga dimensi yang erat melekat ke substrat keras dan bisa sampai 25 - 40cm
dengan ketebalan , dalam lingkungan tenang mungkin tumbuh dalam bentuk tegak
dan lebih terbuka bercabang ( Smith Pers Comm . . 2003) .
4.2 Achantapora spiciefera
Keterangan :
1. Talus
2. Holdfast
Klasifikasi :
Klasifikasi
menurut Manoa (2001), adalah:
Kingdom Plantae
Divisi Rhodophyta
Kelas Rhodophyceae
Ordo Ceramiales
Famili Rhodomelaceae
Genus Acanthophora
Spesies Acanthophora
spicifera
Berdasarkan dari hasil
penelitian didapatkan ciri-ciri sebagai berikut: Alga ini berwarna merah
kekuningan, thallus bercabang banyak selang seling berbentuk silendrik agak
kaku dengan bintil-bintil yang mencuat kesamping dengan permukaan yang kasar
dan panjang antara 5 – 6 cm . Tumbuh melekat pada batu karang dan pecahan
karang.
Alga ini warnanya
bervariasi dengan paparan sinar matahari, dari kuning di perairan dangkal
terkena cahaya terang, menjadi hijau, merah atau coklat tua di daerah dengan
radiasi yang lebih rendah. Thallus silinder, cabang berduri, cabang utama
pendek. Acanthophora secara luas didistribusikan ke seluruh daerah tropis dan
subtropis di zona pasang surut dan subtidal (Manoa, 2001).
Achantopora spcifera
memiliki ciri-ciri : talus silindris,
percabangan bebas, tegak, terdapat duri-duri pendek sekitar thallus yang
merupakan karakteristik jenis ini. Substansi cartilaginous, warna coklat tua
atau kekuningkuningan. Rumpun lebat dengan percabangan ke segala arah Tumbuh
pada substrat batu atau substrat keras lainnya, dapat bersifat epifit. Sebaran
tumbuhnya meluas di perairan Indonesia.
Familia Rhodomelaceae
mempunyai karakteristik tersusun oleh polisiphonus yang dihasilkan oleh 2 sisi:
pertama daun mempunyai struktur yang similar pada porosnya, kedua daun
monosipon dan mempuyai banyak warna yang tersusun oleh tripoblas (Gupta, 1981).
Pada familia ini ditemukan
1 jenis yaitu : Achantopora spicifera dengan ciri-ciri : talus silindris,
percabangan bebas, tegak, terdapat duri-duri pendek sekitar thallus yang
merupakan karakteristik jenis ini. Substansi cartilaginous, warna coklat tua
atau kekuningkuningan.Rumpun lebat dengan percabangan ke segala arah Tumbuh
pada substrat batu atausubstrat keras lainnya, dapat bersifat epifit. Sebaran
tumbuhnya meluas di perairan Indonesia(Dahuri,2003).
Acanthophora berkhasiat
untuk antimikroba dan anti kesuburan. Menurut Atmadja (1990) pada tahun 1986
Wahidul pernah melakukan penelitian mengekstrak Acanthophora spicifera, dari
hasil ekstrak tersebut dapat diisolasi senyawa kimia yaitu sterol, kolesterol,
asam lemak, stearik, palmitat, behamik (C22), asam arakhidik (C2O) dan methyl
palmitat. Rumput laut ini juga mempunyai
daya aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans
dan memiliki aktivitas anti kesuburan terhadap binatang.
Pada umumnya hidup di
lingkungan air laut, tetapi beberapa yang hidup di air tawar, contoh:
Batrachospermum. Distribusi luas di seluruh dunia, sebagian besar tumbuh pada
batu-batuan karang, beberapa jenis juga epifit pada tumbuhan air kelompok
tumbuhan tinggi (Angiosperm) atau pada Rhodophyta yang lain, Phaeophyceae,
Chlorophyceae (Loveless,1989).
4.3 Laurencia snyderae
Keterangan
:
1. Thalus
2. Holdfas
Klasifikasi
Kingdom Plantae
Divisi Rhodophyta
Kelas Rhodophyceae
Ordo Ceramiales
Family Rhodomelaceae
Genus Laurencia
Spesies Laurencia sp.
Deskripsi
Berdasarkan dari hasil
penelitian didapatkan ciri-ciri sebagai berikut: Alga ini berwarna merah kecoklatan, thallus nya kecil-kecil bercabang banyak selang
seling tidak teratur berbentuk silendris holdfasnya
serabut Tumbuh melekat pada batu karang dan pecahan
karang. Untuk literature mengenai alga jenis ini belum kami
temukan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan tumbuhan
thallophyta di kondang merak, didapatkan alga dengan banyak spesies. Tiga
contoh yang kami ambil adalah
sebagai berikut :
1.
Gracilaria salicornia : divisi Rhodophyta ordo
Gigartinales. Memiliki talus yang seperti berbuku-buku dengan percabangan yang
tidak teratur. Thalus silindris, berwarna coklat kemerahan, licin, kenyal,
tebal, dan berair. Holdfast berbentuk seperti serabut berwarna kecoklatan.
2.
Achantophora spiciefera : divisi Rhodophyta dari ordo
Ceramiales. Berwarna merah kekuningan, thallus bercabang banyak selang seling
berbentuk silendrik agak kaku dengan bintil-bintil yang mencuat kesamping
dengan permukaan yang kasar dan panjang antara 5 – 6 cm . Tumbuh melekat pada
batu karang dan pecahan karang.
3.
Laurencia
snydrae didapatkan
ciri-ciri sebagai berikut: Divisi Rhodophyta Ordo cerameales Alga ini berwarna merah kecoklatan, thallus nya
kecil-kecil bercabang
banyak selang seling tidak teratur berbentuk silendris hulfasnya serabut Tumbuh melekat pada batu karang dan
pecahan karang.
5.2
Saran
KKL ( Kuliah kerja lapangan) telah berjalan dengan
lancar sebagaimana yang telah direncanakan. Untuk kedepannya, memang tetap
perlu adanya peningkatan dalam agenda penelitiannya. Pemahaman peneliti
sebelumnya berkaitan dengan target penelitian sangat membantu.
DAFTAR PUSTAKA
Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta.
Bold, 1978. Introduction To The Algae, Structure and Reproduction. New Delhi :
Prentice Hall Of India.
Dawes, C. J. 1990. Marine Botany A Wiley Interscience. Publication John Wiley & Sons : New York.
Dodge, J. D. 1973. The Fine Structure of Algae Cells. Academic Press. London.
Loveless, A.R. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 2. PT Gramedia : Jakarta.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan : Jakarta.
Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta : PT Gramedia.
Pandey, S.N. 1995. A Textbook of Algae. Vikas Publishing :
Jakarta.
Taylor, W. R. 1960. Marine Algae of the Eastern Tropical and Subtropical Coast of the
Americas. New York : Ann Akbor
the University of Michigan Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar